Sabtu, 09 April 2011

Menjadi Penulis Kristen Kreatif

Menjadi penulis Kristen yang kreatif sebenarnya, secara teori, adalah hal yang mudah. Cuma praktiknya saja yang terkadang sulit. Nah, bagaimana kita dapat membuat suatu tulisan yang kreatif? Salah satunya ya dengan mencari ide yang kreatif, ide yang lain dari pada umumnya. Ide kreatif yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah tulisan.

Kreatif Mencari Ide Tulisan

Kreatif, dalam KBBI online < http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php > berarti memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan atau bersifat (mengandung) daya cipta. Melihat hal ini, saya jadi ingat kepada materi seminar yang disampaikan salah satu pembicara dalam suatu konferensi pemuda di Jakarta baru-baru ini tentang menjadi entrepreneur. Pembicara yang juga adalah kolega Ir. Ciputra itu mengatakan bahwa dalam hidupnya, Ir. Ciputra memiliki definisi sendiri tentang apa itu enterpreneur. Menjadi entrepreneur berati memiliki kemampuan mengubah sampah menjadi emas. Kemampuan mengubah sesuatu yang tidak berharga menjadi sesuatu yang berharga, yang memiliki nilai jual.

Hal tersebut, saya rasa mirip dengan apa yang disebut sebagai kreatif. Karena itu, boleh dikatakan bahwa kreatif dalam mencari ide tulisan berarti memiliki kemampuan untuk mengubah suatu topik tulisan menjadi suatu yang berharga, yang memiliki nilai jual. Yang memberikan suatu informasi baru dan lain daripada biasanya kepada pembacanya.

Modal Dasar Mencari Ide Kreatif

- Think Out of The Box

Berpikir di luar biasanya. Itulah yang dimaksud dengan "Think Out of The Box".

Suatu ketika, ketika berkendara melewati sebuah sedan yang memiliki seperangkat tv di dashboard-nya, seseorang berkata, "Ih, kasihan sekali ini orang, tv-nya kecil sekali. Aku saja punya tv yang lebih besar dari itu."

Orang itu secara sadar atau tidak telah berpikir keluar dari kotak, berpikir dari pemikiran yang umum. Sementara orang biasanya berpikir bahwa pemilik sedan itu kaya karena memiliki tv di mobilnya, orang itu malah berpikir sebaliknya.

- Skeptis

Skeptis berarti kurang percaya; ragu-ragu. Orang yang skeptis biasanya tidak mudah menerima dan memercayai segala sesuatu yang dilihat, didengar, atau dirasakannya. Meski sebenarnya segala sesuatu tersebut mungkin saja sudah diterima dan dianggap benar oleh orang kebanyakan.

- Kritis

KBBI online memiliki tiga definisi mengenai kata ini. Salah satunya adalah tajam dalam penganalisisan.

Prefiks ter- jika dikaitkan dengan kata sifat berarti "paling" (terbaik, terindah, dsb.). "Terbesar" misalnya. "Terbesar" berarti paling besar dalam ranah atau bidang tertentu. Yang namanya "paling" itu berarti cuma ada satu. Nah, suatu ketika seseorang kritis terhadap kesewenangan dalam penggunaan kata ini. Setiap ada pameran komputer di kota Solo, labelnya selalu saja hampir sama: "Pameran Komputer Terbesar". Selalu menggunakan kata "terbesar". Nah, yang terbesar yang mana jika semua pameran komputer selalu dikatakan terbesar. Padahal yang namanya paling itu kan cuma ada satu.

Nah, itulah ketiga modal dasar untuk kita dapat menulis secara kreatif. Untuk dapat menulis dengan kreatif, kita harus memiliki topik yang lain daripada biasanya. Untuk mendapatkan ide yang di luar dari biasanya, ketiga modal dasar tersebut dapat dipakai. Tentang cara pemaparannya, itu terserah Anda. Toh, semua orang memiliki gaya tulisan yang berbeda-beda.

Menjadi Penulis Kristen Kreatif

Modal dasar sudah kita miliki, nah sekarang tinggal bagaimana pemaparannya. Menjadi penulis Kristen tidak melulu harus menulis atau memaparkan segala sesuatu yang berbau Kristen (tentang Alkitab, Natal, Paskah, dsb.) Kita bisa saja menulis dan memaparkan topik-topik di luar kekristenan, namun menuliskannya berdasarkan prinsip-prinsip Kristen. Atau jika dimungkinkan, memasukkan beberapa prinsip Kristen di dalamnya.

Soal "terbesar" di atas misalnya. Kita bisa saja mengulas bahwa pelabelan yang seenaknya sendiri itu sebenarnya hanyalah pembohongan publik. Semua pameran komputer selalu dikatakan yang paling besar. Masa iya? Memang itu hanya digunakan untuk menarik pengunjung, tapi bukannya langkah penarikan massa itu bertentangan dengan firman Tuhan karena pada dasarnya setiap label "terbesar" itu tidaklah benar.


Sumber : www.in-christ.net

Senin, 21 Maret 2011

Kriteria Tulisan Bagus

Apa itu Tulisan Bagus?

"Tulisan yang bagus itu isinya menggugah dan dapat memberi inspirasi positif kepada pembacanya."

Sebuah tulisan, baik dalam bentuk panjang maupun pendek, disebut bagus apabila memenuhi sejumlah kriteria tertentu. Kriteria ini bisa sangat beragam karena dipengaruhi subjektivitas dan berbagai kepentingan serta tergantung pada zaman.

Kriteria Tulisan Bagus

Tiap-tiap orang memiliki seleranya sendiri-sendiri dalam menilai sebuah tulisan. Tetapi hendaknya kita berkiblat kepada pendapat orang yang dinilai berkompeten menelaah karya tulis sesuai dengan pendidikan dan reputasinya. Tulisan yang bagus juga seharusnya bebas dari "pesan sponsor" yang lazimnya adalah penguasa. Dan akhirnya nilai suatu tulisan pun ditentukan oleh budaya dan pola pikir masyarakat pada zamannya.

Normalnya, tulisan bagus memenuhi kriteria-kriteria standar sebagai berikut.

  1. Mengungkapkan Hal-Hal Baru

Sebuah tulisan sudah tergolong bagus apabila ia mengungkapkan hal-hal baru. Contoh paling gampang dapat ditemukan dalam jurnal-jurnal ilmiah. Publikasi hipotesis yang menyatakan bahwa virus HIV penyebab penyakit AIDS oleh Dr. Robert Gallo langsung dianggap tulisan bagus karena jelas mengungkapkan hal baru.

  1. Benar dan Lengkap

Mana mungkin berita atau cerita bohong bisa jadi tulisan bagus? Menghebohkan ya, bagus "enggaklah". Mengesampingkan fiksi atau kisah fantasi, jelas tulisan (faktual) bagus harus juga mengandung kebenaran dan lengkap. Tengoklah, berita atau artikel feature di surat kabar bereputasi baik selalu menjunjung nilai-nilai kejujuran dan berperspektif komprehensif; berbeda dengan tulisan di "koran kuning" yang hanya mementingkan sensasi.

  1. Merupakan Pendapat/Ide Orisinal

Tulisan yang bagus biasanya sekaligus merupakan pendapat orisinal penulisnya. Kolom atau opini yang dimuat dalam media massa dianggap bagus apabila mencerminkan pendapat/solusi/saran orisinal penulisnya atas suatu kejadian atau masalah. Tulisan yang tidak berisi ide baru tak dapat dikatakan bagus, walaupun penyajiannya memikat.

  1. Isinya Menggugah

Isi tulisan yang bagus bisa menggugah pembacanya berbuat positif, memerbaiki akhlak dan moral masyarakat, atau paling tidak, memberi inspirasi mencerahkan.

  1. Temanya Istimewa

Tema yang tidak biasa dapat menyulap sebuah tulisan menjadi bernilai tinggi dan bagus. Ketika orang ramai menulis tentang pentingnya memberhentikan pengeluaran izin baru bagi penebangan hutan, anda dapat menulis soal kelangkaan bahan baku kayu yang mungkin dialami pabrik kayu lapis dan industri mebel kayu sebagai konsekuensinya. Hasil karya ini bisa dianggap tulisan bagus karena temanya berbeda dengan pandangan umum.

  1. Mengandung Kejutan

Novel-novel detektif, suspense, atau thriller, mengandalkan ketegangan dan kejutan untuk menjadi karya terpoluler dan terbaik.

  1. Menyangkut Peristiwa Besar

Analisis-analisis yang ditulis menyangkut suatu peristiwa besar berpotensi menjadi tulisan bagus. Pandangan baru atas, misalnya, Revolusi Perancis (1789) atau pendaratan Apollo II di bulan (1963) selalu menarik dan berpeluang menjadi karya bagus, biarpun mundur menentang waktu.

  1. Mengenai Orang Ternama

Hillary Clinton menulis sepenggalan autobiografinya, "It Tooks a Village" dan laris, sebab ia pernah menjadi Ibu Negara Amerika Serikat. Semua orang ingin tahu tentang pengalamannya selama mendampingi Presiden Bill Clinton (1992 -- 2000). Kalau Suminah juga menulis riwayat hidupnya, hasilnya sulit menjadi tulisan yang bagus, sebab orang tak mengenal siapa Suminah.

  1. Bahasanya Bagus

Karya Linus Suryadi Ag, "Pengakuan Pariyem", diakui bagus teristimewa karena ditulis dalam format prosa lirik dengan kata-kata yang indah dan mendalam. Biasanya karya yang dikategorikan bernilai sastra, apalagi puisi, selain temanya menyentuh, bahasanya juga luar biasa.

  1. Penulisnya Top

Kalau enak atau tidaknya makanan bergantung kepada keahlian juru masak yang mengolahnya, bagus tidaknya karya tulis pun sering kali ditentukan oleh siapa penulisnya. Sekali seorang penulis menghasilkan karya bagus, maka karyanya selanjutnya cenderung dianggap bagus pula.

  1. Terpublikasi Melalui Media Tepat

Tulisan bagus juga perlu dipublikasikan melalui media yang tepat dan dengan cara yang baik. Cerita pendek yang dimuat dalam Majalah Sastra Horizon, umpamanya, selalu ditafsirkan sebagai cerpen bagus. Dalam kata-kata lain, tulisan yang bagus sekali pun tidak akan tampak bagus apabila dipublikasikan melalui media yang "salah".

Semakin banyak suatu tulisan memenuhi kriteria-kriteria di atas, semakin bagus pula nilai tulisan itu. Jadi, untuk menghasilkan tulisan yang dapat dinilai bagus, Anda perlu berusaha merancang dan mengerjakannya mengikuti koridor batas-batas kriteria di atas.

Tulisan Anda memang tak dapat disaring lolos melalui semua kriteria tersebut, sebab nilai sebuah karya tulis pun memang perlu ditentukan terlebih dahulu kategorinya sebelum diuji mutunya menurut kriteria yang sesuai. Jika Anda menulis roman, contohnya, tentu tak perlu menyajikan data dan mungkin tidak selalu harus ada hubungannya dengan orang-orang tersohor.

Bagus tidaknya karya tulis dapat ditentukan pula oleh golongan pembacanya sendiri-sendiri. Maksudnya, suatu tulisan bisa dinilai bagus oleh kalangan pembaca tertentu, tetapi, sebaliknya, dianggap tidak bagus oleh kelompok pembaca lain. Karya Pramoedia Ananta Toer menjadi contoh yang tepat. Meskipun berbaur dengan alasan politik dan ideologi, karya P.A. Toer pada satu sisi dicemooh oleh golongan tertentu, tetapi pada sisi lain dipuji oleh golongan yang berbeda.

Resource : pelitaku.sabda.org